Tuesday, May 13, 2008

Teman yang Terlupakan

Hari itu ulang tahunku yang ke 13 dan aku akan merayakannya dengan pesta yang paling meriah. Daftar undangannya, yang kutulis di bagian belakang map tugas sekolah, dimulai dengan beberapa teman dekat. Tapi selama 2 minggu sebelum malam jumat yang istimewa, daftar itu dengan cepat bertambah panjang dari tujuh anak perempuan menjdai total tujuh belas. Hampir semua anak perempuan di kelas 1 SMP mendapat undangan menginap di rumahku untuk sebuah perayaan besar. Aku sangat bahagia ketika setiap tamu yang kuundang dengan penuh semangat menerimanya. Malam itu akan diisi dengan cerita seram, piza, dan banyak hadiah. Tapi seperti yang kemudian kusadari, aku hanya akan benar-benar menghargai 1 hadiah yang kuterima malam itu.
Ruang keluarga dipenuhi ingar-bingar teriakan dan gelak tawa. Kami baru saja selesai bermain Twister dan sedang berbaris untuk berdansa limbo ketika bel pintu berdering. Aku tidak menaruh perhatian pada siapa yang datang. Untuk apa? Semua teman sekolah yang kusukai ada di sini, di dalam ruang keluargaku, bersiap-siap berjalan di bawah tongkat yang dipegang kedua teman perempuanku.
"Chandra, kemari sebentar," Ibu memanggil dari pintu depan.
Aku memuter bola mata dan mengangkat bahu ke arah teman-temanku seolah mengatakan, Ya ampun, siapa yang berani menggangguku sekarang? Yang sebenarnya ingin kukatakan adalah, Susah jadi orang terkenal!
Aku berbelok menuju pintu depan, lalu berhenti. Aku tahu mulutku menganga dan wajahku terasa memerah, karena di sana di beranda depan berdiri Tia Ayuningtyas anak perempuan pendiam yang duduk disebelahku di kelas dan ia memegang sebuah bungkusan kado.
Di kepalaku terbayang daftar undangan yang semakin panjang di bagian belakang map tugas sekolahku. Bagaimana aku sampai bisa lupa mengundang Tia?
Lalu kuingat bahwa aku hanya menambahkan sebuah nama ke dalam daftar ketika seseorang menunjukkan rasa tertarik kepadaku (seperti yang biasa dilakukan anak-anak ketika mereka tahu seseorang mengadakan pesta dan mereka tidak ingin ketinggalan). Tapi Tia tidak pernah melakukannya. Tak pernah sekali pun ia menanyaiku tentang pesta ulang tahunku. Tak pernah sekali pun ia masuk ke dalam lingkaran anak-anak yang mengitariku pada saat makan siang. Dan ia bahkan pernah membantu membawakan ranselku ketika aku terengah-engah menyeret proyek ilmiahku ke ruang kelas.
Kurasa aku lupa mengundangnya hanya karena ia tidak minta diundang. Kuterima hadiah dari Tia dan kuajak ia bergabung dalam pestaku.
"Aku tidak bisa tinggal," katanya, menunduk. "Ayah menunggu di mobil."
"Masuk sebentar,yuk?" kataku nyaris memohon. Saat itu aku merasa sangat tidak enak telah lupa mengundangnya dan benar-benar ingin ia tinggal.
"Terima kasih, tapi aku harus pergi," katanya, berbalik ke arah pintu. "Sampai ketemu hari Selasa."
Aku berdiri di lobi dengan kado Tia di tanganku dan perasaan kosong dalam hatiku.
Aku baru membuka hadiah itu boneka-boneka setelah pesta berakhir. Boneka-boneka setelah permainan, makanan, cerita perang bantal, dan mempermainkan mereka yang pertama kali tertidur serta mendengkur.
Di dalam kotak kecil itu terdapat seekor kucing keramik setinggi sekitar lima setengah sentimeter dengan ekor mengacung di udara. menurutku itu adalah hadiah terindah yang kuterima, meski aku tidak pernah benar-benar menyukai kucing. Sesudahnya aku tahu bahwa patung itu persis kucing Tia, Seymour.
Saat itu aku tidak tahu, tapi sekarang aku sadar bahwa Tia adalah satu-satunya sahabat sejati masa kecilku. Sementara anak perempuan lain satu per satu pergi meninggalkanku, Tia selalu mendampingku, selalu setia dan mendukung. Ia adalah seorang teman tanpa syarat yang selalu menolongku, selalu memberikan dorongan dan memahamiku.

Aku akan selalu menyesali kecerobohanku lupa mengundang Tia. Tapi aku juga menyadari satu hal. Aku mungkin takkan mengetahui bahwa Tia adalah seorang teman sejati kalau saat itu aku ingat mengundangnya ke pesta ualang tahun ke 13 yang tak terlupakan itu.

No comments: